NTT Masih Berduka: 103 Jiwa Melayang, 6.407 Gempa Susulan, dan Ratusan Ribu Warga Masih Terpaku Ketakutan

Sebelas hari setelah gempa M 7,7 menghantam Flores, angka kematian terus merangkak naik. Bukan karena gempa utama, tapi karena gempa susulan yang merobohkan rumah sisa, longsor yang menimbun jalan, dan kondisi kesehatan yang memburuk di pengungsian. Di NTT, hari ini bukan hari untuk berhitung. Hari ini adalah hari untuk bertahan.

Gempa NTT, Foto: BNPB / Wikimedia Commons
banner 120x600

Jakarta — Selasa sore, 25 Agustus 2026, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan duduk di depan kamera konferensi pers dari Jakarta. Di belakangnya, layar menampilkan angka-angka yang terus berubah,  dan tidak satu pun dari angka itu membawa kabar baik.
“Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” ujarnya, suaranya datar tapi berat.

Tiga jiwa. Di hari ke-11. Seharusnya, sebelas hari setelah gempa utama, angka kematian sudah tidak bertambah. Tapi di Nusa Tenggara Timur, bencana ini belum selesai. Ia baru saja memasuki fase yang lebih berbahaya: fase di mana kelelahan mengalahkan kewaspadaan, dan gempa susulan menjadi pembunuh diam-diam.

Sisi Korban: 103 Nama di Balik Angka

Mari kita uraikan angka 103 ini. Bukan untuk membuatnya lebih kecil. Tapi untuk membuatnya lebih nyata.
Dari 103 korban meninggal, 41 jiwa berasal dari Kabupaten Manggarai. 34 jiwa dari Manggarai Timur. Sisanya tersebar di Nagekeo, Ngada, Sikka, dan kabupaten lainnya.

Tapi yang lebih menyedihkan adalah komposisi usia. 45 persen korban meninggal adalah lansia. 37 persen adalah dewasa.

Artinya, yang paling banyak meninggal adalah mereka yang paling tidak mampu berlari. Nenek-nenek yang kakinya sudah lemah. Kakek-kakek yang butuh waktu untuk bangun dari tidur. Mereka yang seharusnya dilindungi, tapi justru menjadi yang paling rentan ketika tanah berguncang dan atap rumah runtuh di atas kepala mereka.
Tiga korban terbaru yang ditambahkan hari ini kemungkinan bukan langsung akibat gempa utama. Mereka mungkin meninggal karena gempa susulan yang merobohkan rumah yang sudah retak. Atau karena kondisi kesehatan yang memburuk di pengungsian, tanpa obat, tanpa nutrisi cukup, dan tanpa tempat tidur yang layak. Atau karena tidak bisa dievakuasi ke rumah sakit karena jalan tertimbun longsor.
Di hari ke-11, kematian di NTT bukan lagi soal gempa. Ia soal akumulasi ketidakmampuan.

Sisi Gempa Susulan: 6.407 Kali Tanah Berguncang, dan Masih Berlanjut

Gempa utama M 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WIB bukanlah akhir dari cerita. Ia hanya pembuka.

Hingga Senin, 24 Agustus 2026, BMKG telah mencatat 6.407 kejadian gempa susulan. Dari jumlah itu, 118 gempa dirasakan langsung oleh masyarakat, dan 31 di antaranya memiliki magnitudo di atas 5,0. Gempa terbesar mencapai M 6,2.

Bayangkan: selama 10 hari, rata-rata 640 gempa per hari. Atau 27 gempa per jam. Atau satu gempa setiap dua menit.
Di NTT, tanah tidak pernah benar-benar diam. Warga tidak pernah benar-benar tidur nyenyak. Setiap guncangan kecil membuat jantung berdebar. Setiap suara gemuruh membuat mereka lari ke luar rumah jika rumah mereka masih berdiri.
BMKG memprediksi gempa susulan akan terus berlangsung selama 3 hingga 4 minggu ke depan.

Artinya, NTT masih harus menahan napas selama minimal dua minggu lagi. Dua minggu di mana setiap gempa kecil bisa merobohkan bangunan yang sudah rapuh. Dua minggu di mana setiap malam adalah pertaruhan antara tidur dan kewaspadaan.

Sisi Medis: 1.666 Luka-Luka dan Sistem Kesehatan yang Terlalu Penuh

Angka luka-luka juga terus bertambah. Hingga Selasa, BNPB mencatat 1.666 orang mengalami luka berat dan ringan.

Di hari ke-11, luka-luka ini bukan lagi soal memar atau goresan. Banyak dari mereka adalah patah tulang akibat tertimpa reruntuhan. Luka bakar akibat tersengat listrik saat kabel putus. Luka terinfeksi akibat terluka di kondisi tidak steril dan tidak segera ditangani.
Rumah sakit di Flores  yang sebelumnya sudah terbatas jumlah dan fasilitasnya  kini overload. Ruang ICU penuh. Stok darah menipis. Obat-obatan mulai langka. Dan yang paling parah: banyak tenaga medis yang juga menjadi korban gempa, baik karena rumah mereka runtuh atau karena mereka terlalu lelah bekerja 24 jam nonstop.
Yang belum terhitung adalah korban trauma psikologis. Anak-anak yang tidak bisa tidur tenang. Ibu-ibu yang setiap kali mendengar suara gemuruh langsung berteriak. Lansia yang mengalami gangguan jantung akibat stres berkepanjangan. Mereka tidak masuk dalam statistik luka-luka.

Sisi Pengungsi: 185 Ribu Jiwa, Tanpa Rumah, Tanpa Pasti

Jumlah pengungsi adalah angka yang paling menggambarkan skala bencana ini. Hingga Selasa, lebih dari 185.000 jiwa mengungsi.

185 ribu. Itu lebih dari populasi beberapa kabupaten di Indonesia. Itu adalah kota kecil yang tiba-tiba harus tinggal di tenda, di lapangan, di gereja, di sekolah, atau di mana saja yang masih berdiri.
Tapi mengungsi di NTT bukanlah pengalaman yang nyaman. Suhu di Flores bisa mencapai 35 derajat Celsius di siang hari. Tenda-tenda darurat yang didirikan di lapangan terik matahari. Air bersih terbatas. Toilet darurat tidak cukup. Makanan bergantung pada bantuan dari luar yang kadang terlambat karena jalan rusak.
Dan yang paling menyiksa: ketidakpastian. Warga tidak tahu kapan mereka bisa pulang. Rumah mereka mungkin sudah runtuh. Atau mungkin masih berdiri tapi retak parah. Atau mungkin masih utuh tapi terlalu berbahaya untuk ditinggali karena gempa susulan terus mengancam.
Mereka terjebak di antara dua pilihan buruk: tinggal di pengungsian yang tidak layak, atau pulang ke rumah yang bisa runtuh kapan saja.

Sisi Infrastruktur: 44.946 Rumah Hancur, Jalan Tertimbun, dan Listrik Padam

Gempa ini tidak hanya merenggut nyawa. Ia juga merenggut tempat tinggal.
BNPB mencatat 44.946 unit rumah rusak akibat gempa, dengan rincian: 17.176 rusak berat, 9.758 rusak sedang, dan 18.013 rusak ringan.

Kabupaten dengan rumah rusak terbanyak adalah Manggarai Timur (5.962 unit), Manggarai (3.146 unit), dan Manggarai Barat (3.050 unit).

Tapi rumah bukan satu-satunya yang hancur. Jembatan runtuh. Jalan tertimbun longsor. Listrik padam di banyak area. Air bersih terputus. Sekolah rusak. Rumah sakit retak. Dan di tengah semua itu, gempa susulan terus datang, menambah kerusakan di tempat-tempat yang sudah rapuh.
Di Nagekeo,  episenter gempa utama  kondisi mungkin lebih parah daripada yang tercatat. Akses sulit. Komunikasi terputus. Dan bantuan belum tentu sampai.

Sisi BMKG: Membaca Tanah yang Tidak Mau Diam

Bagi BMKG, gempa NTT adalah studi kasus yang kompleks.
Gempa utama M 7,7 terjadi di Flores Back-Arc Thrust   yaitu zona patahan yang aktif dan berbahaya. Gempa susulan yang terjadi tidak menyebar secara merata, tapi membentuk klaster  atau kelompok gempa yang terkonsentrasi di beberapa titik.

Klaster utama berada di sekitar zona sumber gempa M 7,7 di utara Nagekeo. Klaster lain muncul di bagian barat, di sebelah utara Kabupaten Manggarai. Dan yang paling mengkhawatirkan: aktivitas seismik terus bergeser. Dari hari pertama hingga keempat, gempa menyebar merata. Tapi pada hari kelima dan keenam, aktivitas memusat di klaster barat, sementara klaster timur mulai mereda.

Apa artinya? Artinya, BMKG tidak bisa memberikan jaminan bahwa satu area sudah “aman”. Karena fokus gempa bisa berpindah kapan saja. Area yang tadinya tenang bisa tiba-tiba diguncang gempa besar.
BMKG terus memantau. Mereka terus memberikan update. Tapi yang mereka tidak bisa berikan adalah ketenangan pikiran bagi warga NTT. Karena di dunia seismologi, prediksi gempa masih mustahil. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengatakan: “Bersiaplah. Karena gempa akan terus datang.”

Sisi Pemerintah: BNPB di Jakarta, Bencana di NTT

Berton SP Panjaitan memberikan update dari Jakarta, bukan dari lapangan. Bukan karena dia tidak mau ke sana. Tapi karena koordinasi pusat harus berjalan.
BNPB telah mengerahkan tim, logistik, dan bantuan ke NTT. Tapi jarak antara Jakarta dan Flores adalah ribuan kilometer. Bantuan harus diangkut dengan pesawat, kapal, atau truk yang melewati jalan berliku. Dan di tengah jalan, gempa susulan bisa merobohkan jembatan atau menimbun jalan dengan longsor.
Tantangan terbesar BNPB bukan hanya soal mengirim bantuan. Tapi soal koordinasi di lapangan. Ada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, TNI, Polri, PMI, relawan, dan organisasi internasional. Semua harus bekerja sama tanpa tumpang tindih.
Dan di tengah semua itu, ada warga yang menunggu. Mereka tidak peduli siapa yang mengirim bantuan. Mereka hanya peduli: kapan bantuan itu sampai? Kapan mereka bisa pulang? Kapan anak-anak mereka bisa sekolah lagi? Kapan hidup mereka bisa normal?
BNPB punya angka. Tapi warga NTT punya pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan angka.

Sisi Psikologis: Trauma yang Lebih Lama dari Gempa

Gempa bisa berhenti. Tapi trauma tidak.
Di NTT, anak-anak yang selamat kini hidup dalam ketakutan konstan. Setiap guncangan kecil   bahkan dari truk lewat, membuat mereka berlari keluar rumah. Setiap suara petir membuat mereka bersembunyi di bawah meja. Malam hari adalah waktu paling menyeramkan, karena gelap menghapuskan visual dan meninggalkan hanya suara,  dan setiap suara bisa jadi gempa.
Orang dewasa juga tidak luput. Banyak yang mengalami insomnia. Banyak yang tidak bisa fokus bekerja. Banyak yang mengalami gangguan kecemasan berkepanjangan. Dan di tengah kondisi pengungsian yang tidak layak, trauma ini tidak punya ruang untuk disembuhkan.
Yang paling berbahaya adalah learned helplessness ,  kondisi di mana warga merasa tidak punya kendali atas hidup mereka. Mereka sudah mencoba bertahan. Tapi gempa terus datang. Bantuan terlambat. Masa depan terasa gelap. Dan lambat laun, mereka berhenti berusaha.
Ini adalah bencana yang tidak terlihat dalam statistik BNPB. Tapi ini adalah bencana yang akan menghantui NTT selama bertahun-tahun ke depan.

Foto: BNPB / Wikimedia Commons

Foto: BNPB / Wikimedia Commons

Sisi Ekonomi: Flores yang Terluka, Pariwisata yang Terhenti

Flores adalah salah satu destinasi wisata andalan Indonesia. Labuan Bajo, Pulau Komodo, dan Gunung Kelimutu menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahun. Tapi hari ini, penerbangan ke Labuan Bajo mungkin sepi. Hotel mungkin kosong. Restoran mungkin tutup.
Gempa ini bukan hanya merusak rumah warga. Ia juga merusak ekonomi. Petani tidak bisa ke lahan karena jalan rusak. Nelayan tidak bisa melaut karena perahu hancur. Pedagang tidak bisa berjualan karena toko runtuh. Dan pegawai pariwisata,  pemandu, supir, juru masak  kehilangan pekerjaan karena tidak ada turis yang mau datang ke daerah bencana.
Pemulihan ekonomi di NTT akan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Bukan hanya untuk membangun kembali rumah dan jalan. Tapi untuk membangun kembali kepercayaan.  Kepercayaan wisatawan bahwa Flores aman, kepercayaan investor bahwa NTT layak untuk dibangun, dan kepercayaan warga bahwa mereka bisa membangun kembali hidup mereka.
103 jiwa telah melayang. Dan pertanyaan besarnya adalah: berapa banyak lagi sebelum bencana ini benar-benar berakhir?
Indonesia seringkali bangga dengan semangat gotong royongnya saat bencana. Tapi gotong royong tidak cukup jika infrastruktur tidak kuat. Gotong royong tidak cukup jika peringatan dini tidak memadai. Gotong royong tidak cukup jika rumah-rumah dibangun tanpa standar tahan gempa. Gotong royong tidak cukup jika gempa susulan terus merenggut nyawa di hari ke-11, ke-12, dan seterusnya.
NTT butuh lebih dari bantuan sembako. NTT butuh kebijakan!  Kebijakan pembangunan yang memperhatikan zonasi gempa, kebijakan perumahan yang tahan gempa, kebijakan kesehatan yang siap darurat, dan kebijakan mitigasi yang tidak hanya reaktif tapi preventif.
Karena jika tidak, 103 bukan angka akhir. Ia hanya angka sementara,  sebelum gempa berikutnya datang, di NTT atau di tempat lain, dan daftar korban bertambah lagi.
Selamat berjuang, NTT. Indonesia sedang menonton. Dan seharusnya, Indonesia sedang bertanya pada dirinya sendiri: apakah kita sudah cukup belajar?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Secret Link